Pengalaman Belajar Sastra

APA yang dikemukakan oleh Taufiq Ismail mengenai hasil penelitiannya membandingkan siswa SMA berbagai negeri dan SMA di Indonesia kini dan dahulu (masa Rosihan Anwar) memang secara umum dapat dibenarkan. Apalagi bila diingat pada sebagian besar perpustakaan sekolah, buku-buku sastra tidak mudah didapat.

PEMERINTAH telah berusaha membagi buku-buku sastra ke sekolah-sekolah walau jumlahnya tentu kurang memadai. Buktinya, sampai sekarang setiap tahun ada saja proyek pengadaan buku bacaan, termasuk buku sastra. Dengan tiras sekitar 5.000 eksemplar setiap judul pasti belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan buku sastra di sekolah-sekolah.

Secara umum siswa kita dikatakan buta sastra jika dibandingkan dengan siswa di negeri-negeri lain. Secara individual, tentu tak dapat dikatakan bahwa mereka sama sekali buta sastra. Buktinya, setiap tahun lahir sastrawan-sastrawan muda. Kelahirannya pasti mustahil tanpa membaca karya sastra, lahir sebagai insan buta sastra. Mereka pasti membaca karya sastra walau mungkin kurikulum tidak mewajibkannya, atau walaupun buku yang mereka perlukan tak tersedia di perpustakaan sekolah. Masih ada perpustakaan lain seperti perpustakaan umum dan lain-lain yang menyediakan buku sastra.

Wayan Artika, seorang dosen dan sastrawan, mengemukakan dalam rubrik Didaktika (Kompas, 31/5) soal siswa yang baginya telah menjadi korban “kesewenang-wenangan” kurikulum dan guru. Artika berpendapat, sebaiknya dalam belajar sastra siswa diberi bacaan yang ditulis oleh para penulis seusianya, bukan disodori karya sastra pengarang dewasa. Merunut logika ini, maka anak-anak sekolah dasar seyogianya diberi bacaan anak-anak yang ditulis oleh anak-anak sendiri.

Saya pernah menghadiri sebuah lokakarya mengenai children literature yang diselenggarakan di sebuah hotel berbintang di Columbus, Ohio, Amerika Serikat. Pesertanya banyak guru SD dan SMP, datang dengan pesawat terbang, dan tinggal di hotel mewah itu. Mereka dipertemukan dengan para pengarang buku-buku yang dikategorikan sebagai children literature atau bacaan anak-anak.

Di antara pengarang itu tak seorang pun yang berusia remaja. Semuanya pengarang handal yang telah menulis banyak buku cerita anak-anak yang sebagian besar telah mendapat pula penghargaan dari sejumlah lembaga perbukuan. Yang mereka tulis adalah kisah-kisah dengan (tokoh) para remaja atau anak-anak, dengan bahasa yang bagus dan cerita yang bagus pula. Secara kasar tentu dapat dikatakan bahwa anak-anak “dicekoki” cerita yang dibuat orang tua.

Cerita anak-anak atau remaja di penerbitan manapun jarang yang ditulis oleh anak-anak remaja. Perhatikan saja majalah Bobo, berapa persen penulis anak-anak ikut mengisi majalah itu. Mereka memang diberi kesempatan ikut menulis, namun porsi dan rubriknya terbatas sebab kemampuan mereka juga terbatas. Hal itu juga saya alami ketika saya bergabung menjadi penulis cerita anak di majalah Si Kuncung pada tahun 1961. Para penulisnya adalah penulis senior, seperti Sukanto SA alias Pak Kanto, Soesilo Murti, dan lain-lain.

PERKENANKAN saya bercerita tentang pengalaman pribadi saya belajar sastra, yang tentu tak sejalan dengan pendapat Artika mengenai bacaan anak-anak yang harus ditulis oleh anak-anak.

Ketika itu saya berusia 12 tahun, masih duduk di kelas 5 sekolah rakyat (SR) tahun 1953. Waktu itu ayah saya yang kebetulan Kepala Kantor Pendidikan dan Kebudayaan Kodya Malang sering membawa pulang majalah-majalah Mingguan Anak-anak, Si Kuncung (Jakarta), Murai (Semarang), dan juga majalah sastra Kisah pimpinan HB Jassin itu. Majalah dicetak di atas kertas koran, hitam putih, tanpa sampul khusus. Saya melahap semua tulisan dalam majalah-majalah itu sampai pernah menulis di majalah Mingguan Anak-anak dan mendapat honor Rp 15.

Saya paling suka membaca majalah Kisah dan berkenalan dengan nama-nama yang kemudian menjadi sastrawan terkenal, seperti Nh Dini dengan cerpennya Jatayu, Nugroho Notosusanto dengan cerpennya Vickers Jepang, dengan Subagio Sastrowardoyo, juga Ajip Rosidi. Saya kagum atas prestasi Ajip Rosidi dan Nh Dini karena mereka masih muda. Ajip siswa SMP yang tinggal di Desa Jatiwangi, Jawa Barat, dan Nh Dini barulah siswi SMA. Saya bercita-cita menjadi pengarang seperti mereka dan syukur kelak saya sempat ngobrol dengan Nh Dini dan Subagio Sastrowardoyo.

Itulah bahan bacaan yang saya lahap ketika saya masih duduk di bangku SR. Di sekolah juga ada perpustakaan sekolah, kebetulan saya pengelolanya. Buku-buku terjemahan karya pengarang dunia saya lahap, antara lain Hector Malot dengan Sendiri di Dunia, Cervantes dengan Don Kisot (Don Quisote), lalu ada novel-novel karya Victor Hugo, Alexander Dumas.

Saat duduk di bangku SMP pun saya menjadi anggota Perpustakaan Pendidikan Masyarakat dan menghabiskan koleksi buku perpustakaan tersebut, sebab setiap sore (kecuali hari Minggu tentu) saya datang dan menukar buku yang selesai saya baca. Sesudah itu, perpustakaan di kantor penerangan pun kehabisan buku untuk saya lahap.

Saya juga menjadi pembeli buku setia Toko Buku Atom yang terletak di jalan Kabupaten Malang. Toko itu sekarang sudah tak ada, dan nama jalannya pun sudah diubah. Saya beli buku-buku baik yang berbahasa Indonesia maupun beberapa buku berbahasa Inggris, dengan harapan buku-buku berbahasa Inggris itu nanti bisa saya baca dengan lebih baik kalau saya sudah duduk di bangku SMA. Dari buku-buku itu saya pernah menerjemahkan sajak karya Edgar Allan Poe, penyair Amerika, berjudul Annabel Lee, juga sebuah tulisan singkat mengenai riwayat penyair ini. Kedua tulisan dimuat di majalah Berita Muda yang terbit di Jakarta. Sayang, saya kehilangan klipingnya sehingga tak bisa menilai betapa buruknya kedua tulisan saya itu.

DARI pengalaman di atas saya berani menyimpulkan, alangkah kejamnya pendidikan kita kalau sampai mematok siswa membaca hanya karya penulis seusianya. Dengan memberinya kebebasan membaca apa saja, maka bibit bakat di dalam diri siswa dapat berkembang tak terbatas. Apakah siswa SMP harus dilarang membaca Sukreni Gadis Bali, Belenggu, Atheis karena karya ini tak sesuai dengan perkembangan usia anak didik?

Bagaimana kalau pada suatu hari seorang siswa SD bertanya: “Bapak, apakah yang dimaksud dengan teori relativitas itu?” Apakah guru harus menjawab, “Nanti kalau kamu sudah duduk di bangku SMA atau sudah menjadi mahasiswa, barulah kamu boleh mengetahuinya.” Bukankah guru yang bijak seharusnya menjawab pertanyaan itu dengan jawaban sederhana yang menjelaskan tentang teori itu, tapi kalau guru tidak tahu tentu dia bisa mengatakan, “Baiklah, Bapak akan cari bahan bacaan untuk itu. Nanti kamu bisa baca sendiri penjelasannya.” Andaikata ada terjemahan buku kuno berjudul Relativity for the Laymen tentu bapak guru dengan mudah mencomot buku itu dari perpustakaan sekolah dan memberikannya kepada siswa yang ingin tahu.

Begitu pula bila siswa bertanya, “Ibu, mengapa daun kebanyakan berwarna hijau?”; atau “Ibu, kenapa ketela pohon di kebun kakek tumbuh sampai tiga meter tingginya?” Apa dia harus menunda beberapa tahun untuk mengetahui jawabannya?

Demikian pula bagi saya, belajar sastra tak perlu merasa dikapling oleh orang dewasa. Sudah nasib anak muda harus melahap banyak tulisan yang dibuat oleh orang dewasa. Apa memang demikian? (Oleh : Sunaryono Basuki Ks Penulis Tinggal di Singaraja, Bali. Sumber : Kompas Cyber Media)

Tinggalkan Balasan