Pengurangan Emisi Bahasan Pertama

Hari Ini Konferensi PBB Perubahan Iklim Dimulai
NUSADUA – Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (United Nations Framework Climate Change Conference/UNFCCC) dibuka secara resmi hari ini. Sesuai dengan jadwal, konferensi lingkungan terbesar di dunia itu akan dibuka oleh Presiden Organisasi Pelaksana UNFCCC Konferensi Para Pihak (Conference of Party/COP)-12 David Mwiraria dari Kenya dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemilihan presiden COP-13

Sekretaris Eksekutif UNFCC Yvo de Boer menyebutkan, sampai pembukaan hari ini, UNFCCC ke-13 dipastikan akan diikuti oleh sekitar 9.000 peserta dari 186 negara. “Selain itu, ada sekitar 300 LSM internasional yang terlibat,” ujarnya dalam konferensi pers di BICC (Bali International Convention Center) The Westin Resort, Nusa Dua, Minggu siang kemarin (2/12). Perhelatan akbar dunia itu pun diliput sedikitnya oleh 300 media internasional dengan jumlah wartawan lebih dari 1.000 orang.

Dijelaskan, isu menarik yang dibahas di sesi-sesi awal hari ini menyangkut negosiasi pengurangan emisi, baik oleh negara maju dan negara berkembang. “Bukan hanya negara maju yang harus kita dorong untuk mengurangi emisi. Negara berkembang juga diharapkan menurunkan emisi dengan tetap menjaga pertumbuhan ekonominya,” jelas Boer.

Seperti dilaporkan Radar Bali (Grup Jawa Pos), UNFCCC menginginkan negara maju menjadi leader dalam mengatasi masalah tersebut. Karena itu, sesuai dengan kesepakatan yang tertuang dalam Protocol Kyoto, negara-negara industri ditarget untuk tidak mengumbar emisinya hingga tahun 2012. Menurut dia, ada 25 bentuk atau cara untuk mereduksi emisi itu. Antara lain, membangun hutan dan mengurangi produksi gas rumah kaca. “Tetapi, saya tidak yakin dalam pertemuan ini untuk menekan negara berkembang untuk mereduksi emisi. Saya kira, yang terpenting dibatasi saja dulu pertumbuhannya,” ujar Boer.

Sementara itu, Radar Bali melihat, aparat keamanan menerapkan kondisi siaga satu di sekitar lokasi acara konferensi. Polisi dan TNI tampak di setiap tempat strategis di kawasan wisata Nusa Dua. Polisi dari kesatuan Brimob bersiaga dengan senjata laras panjang. Kemarin Kapolri Jenderal Sutanto juga meninjau langsung kesiapan pengamanan itu, sejak ring I hingga III.

Satu per satu alat komunikasi dan kesiapan personel dicek, lantas dievaluasi apa saja yang kurang, kemudian segera diperbaiki. “Prioritas kita (Polri) adalah bagaimana pertemuan ini bisa berlangsung aman dan lancar,” ujar Kapolri saat ditemui di Posko Candi Agung 2007 di kawasan BTDC (Bali Tourism Development Centre).

Kapolri juga menyinggung kemungkinan munculnya demonstrasi selama pelaksanaan UNFCCC. Menurut dia, itu wajar asal dilaksanakan dalam koridor aturan, yakni tertib dan tidak mengganggu kepentingan yang lebih luas. “Mari kita laksanakan konferensi ini dengan aman. Janganlah kita sampai memalukan negeri sendiri,” pintanya. Dalam kesempatan itu, Kapolri juga menyinggung peralatan untuk pengamanan konferensi. Termasuk peralatan anti-CBRB atau senjata antibahan kimia, biologi, radiasi, dan nuklir.

Kesibukan Bali sehari menjelang pembukaan UNFCCC juga terlihat mencolok di Bandar Udara Ngurah Rai. Setiap jarak 500 meter di bandara internasional itu, ada dua polisi yang berjaga dengan senjata lengkap. Dua tenda polisi dibangun di halaman bandara. Mobil Tim Gegana juga disiagakan. Selain polisi, sejumlah anggota TNI juga berjaga di bandara. Antara lain, terlihat sejumlah personel Paskhas TNI-AU berbaret oranye. Di terminal kedatangan internasional, tampak metal detector.

Menurut Sutanto, pengamanan di Bandara Ngurah Rai menjadi tanggung jawab Polri dan TNI. Pasukan dari PBB yang telah datang ke Bali hanya melakukan pengamanan di lokasi konferensi di kawasan Nusa Dua. Pengamanan juga terlihat mencolok menjelang kehadiran Presiden SBY. Menurut agenda, SBY baru tiba di Bandara Ngurah Rai pada Senin pagi ini (3/12).

Dua Menteri Sidak

Selain Kapolri, Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh dan Menko Kesra Aburizal Bakrie juga menyidak lokasi perhelatan akbar UNFCCC di BICC kemarin sore. Yang pertama disidak adalah Paviliun Indonesia di rusuk kanan depan BICC. Kemudian, mereka menengok aktivitas wartawan di Media Center dan tempat penulisan berita.

Terakhir, Nuh dan Aburizal mengecek ruang konferensi pers yang di-setting mirip gedung bioskop di rusuk kiri BICC. Di ruang konferensi pers itu, Aburizal memprotes lampu di Paviliun Indonesia. “Ïni kok lighting-nya buram-buram begini,” kata Ical. (rid/mus/jpnn/kim/JawaPos)

Tinggalkan Balasan