Bila Ayah dan Ibu Berpisah

Perceraian, baik karena kematian atau ketidakcocokkan dalam berumah tangga seringkali menggoncangkan jiwa anak. Sialnya, acapkali kita tak dapat mengerti apa yang mereka rasakan.

Belakangan marak terdengar berita tentang perceraian para artis kita. Dan tak sedikit di antara pasangan tersebut yang terpaksa harus memisahkan anak-anak mereka dari kehangatan kasih ayah dan ibunya. Di sekeiling kita pun pasti banyak pasangan yang akhirnya memilih atau berpisah pasangannya karena lasan tertentu. Atau berpisah karena pasangannnya meninggal dunia. Ya, perceraian adalah bagian dari perjalanan hidup manusia yang terkadang tak bisa dihindari. Dan salah satu yang biasanya menjadi korban adalah anak-anak dari hasil perkawinan tersebut.


Jangan dikira, perceraian tak membawa dampak ke anak-anak, yang balita sekalipun. Sebagai manusia, anak-anak juga menghadapi masalah, lho, entah perceraian, persaingan antar-teman, lingkungan keluarga, dan lainnya. Dan banyak di antara mereka yang tidak dapat mendeteksi penyebab dari masalah tersebut dengan jelas, apalagi memecahkan masalahnya dengan benar. Nah, untuk membantu meringankan beban anak akibat perceraian orang tuanya, beberapa hal berikut bisa dicoba:

1. Beritahu sesegera mungkin
Sebelum bangkit menjadi teman penguat buah hati, sebaiknya Anda pecahkan dulu masalah yang menyebabkan Anda tertekan akibat perceraian yang Anda alami. Setelah itu, katakan segala sesuatu tentang perceraian Anda dengan jujur kepada anak-anak. Kejujuran akan meyakinkan mereka, bahwa Andalah orang yang dapat dipercaya di muka bumi ini. Yakinlah, anak-anak akan berkata dengan jujur tentang apapun yang mereka rasakan pada orang yang ia kenal dan percayai.

Perceraian, baik karena ketidakcocockan dalam berumahtangga maupun akibat kematian, tidak memungkinkan kedua pasangan hidup berdampingan lagi. Maka, beritahu anak sesegera mungkin mengenai hal ini dan apa alasannya (jika cerai bukan karena kematian). Begitu pun jika perpisahan tersebut akibat kecelakaan atau sakit. Katakan sejelas mungkin apa yang terjadi sehingga anak tidak digayuti rasa bersalah. Terkadang, anak juga merasa bersalah, dan merasa bahwa ia-lah yang menjadi penyebab orang tuanya bercerai atau meninggal (jika perceraian terjadi akibat kematian)

2. Katakan apa yang akan terjadi
Setelah perceraian terjadi, gambarkan pada anak apa saja perubahan yang akan terjadi dalam keluarga. Bagi anak-anak, ketidaktahuan adalah hal yang paling buruk dari semua kenyataan yang ada. Coba simak contoh berikut. Suatu hari, Rio, bocah 8 tahun berlari tergesa dari sekolah menuju rumahnya. Kedua orang tuanya baru saja bercerai. Dan sebelumnya, di halaman sekolah, dua orang tua temannya membicarakan tentang keluarganya. “Katanya setelah cerai, tanah dan rumah kamu akan dijual.”

Si bocah pun tak peduli pada keringatnya yang berjatuhan setelah ia berlarian. Semangatnya untuk segera sampai di rumah didorong oleh rasa takut, kalau-kalau percakapan yang sempat ia dengar itu menjadi kenyataan. Kemarin, ia memang melihat ibunya berbincang-bincang dengan orang asing dan menunjuk-nunjuk rumahnya. “Bisa jadi besok, akulah yang akan diangkutnya,” batinnya. Ia tidak tahu, ibunya sedang berniat merenovasi bagian samping atap rumah yang bocor besar.

3. Agar anak mau mencurahkan perasaannya
Setelah bercerai beberapa minggu dengan suaminya, Sarah selalu bertanya pada Andi, anaknya yang beranjak remaja. “Bagaimana perasaan kamu setelah ibu dan ayah bercerai?” Andi selalu menjawab, “Saya baik-baik saja,” ujar Andi cuek lantas berlalu. Dari sikap anaknya, Dewi sebetulnya tahu ada sesuatu yang disembunyikan Andi.

Seperti halnya remaja, anak-anak pun memiliki kebutuhan untuk mencurahkan rasa kehilangannya. Anda bisa memancingnya dengan cara mencurahkan perasaan dan kekhawatiran Anda padanya. Dengan begitu, anak akan lebih mudah mengekspresikan apa yang mereka rasakan juga. Sebaiknya, cari tempat dan waktu yang tepat.

Jika Anda mengalami hal serupa, mungkin bisa dicoba cara ini. Ajak anak bicara, misalnya saat Anda mengantarkannya berlibur ke luar kota. Perjalanan yang jauh dan hanya ditempuh berdua, merupakan saat dan tempat yang tepat. Bisa juga mengajak anak makan di restoran kesukaan yang nyaman dan membicarakannya seraya anak menyantap makanan favorit.

4. Sampaikan lewat surat
Kadangkala, setelah perceraian, orang tua merasa tidak bisa menjadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya. Perasaan ini sulit sekali diungkapkan. Jika ini yang terjadi, tak ada salahnya Anda menyampaikannya lewat surat, khususnya bagi anak-anak yang sudah bisa emmbaca. Jangan ragu untuk menyatakan perasaan dan kekhawatiran Anda pada anak lewat surat, karena sangat penting buat anak mengetahui perasaan orang tuanya. Dengan begitu, mereka bisa lebih memahami perasaannya sendiri.

5. Fokus pada masa depan
Bersatulah dengan anak-anak untuk menjalani hari yang akan datang. Untuk itu, buatlah rencana-rencana hidup bersama yang menarik. Tetapkan semangat pada diri dan anak-anak bahwa hidup bisa berubah lebih baik, meski orang tua tak lagi tinggal bersama. Jika antan suami masih ada, jangan segan untuk memintanya untuk juga membangun semangat pada anak agar bisa lebih tegar menatap masa depan.
(<a href=”http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=1129
” target=”_blank”>Tabloid NOVA, Yenti Aprianti)

Tinggalkan Balasan